Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional

0

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional adalah:

1. Sumber Pendanaan

Dinegara-negara dengan pasar ekuitas yang kuat, akuntansi memiliki fokus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan resiko terkait. Sebaliknya, dalam sistem berbasis kredit dimana bank merupakan sumber utama pendanaan, akuntansi memiliki fokus atas perlindungan kreditor melalu pengukuran akuntansi yang konservatif.

2. Sistem Hukum

Dunia barat memiliki dua orientasi dasar: hukum kode (sipil) dan hukum umum (kasus). Dalam negara-negara hukum kode, hukum merupakan satu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur sehingga aturan akuntansi digabungkan dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap. Sebaliknya, hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode yang lengkap.

3. Perpajakan

Dikebanyakan negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya untuk keperluan pajak. Ketika akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu.

4. Ikatan Politik dan Ekonomi

5.Inflasi

Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya histories dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu negara untuk menerapkan perubahan terhadap akun-akun perusahaan.

6.Tingkat Perkembangan Ekonomi

Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama.

7.Tingkat Pendidikan

Standard praktik akuntansi yang sangat rumit akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Pengungkapan mengenai resiko efek derivative tidak akan informative kecuali jika dibaca oleh pihak yang berkompeten.

8. Budaya

Empat dimensi budaya nasional, menurut Hofstede: individualisme, jarak kekuasaan, penghindaran ketidakpastian, maskulinitas.

 

SUMBER : http://jerysidjabat7.blogspot.com/2011/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

Peranan Akuntansi Internasional

0

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Akuntansi : Sebuah Bahasa Bisnis

 

Dari perspektif pelaksana akuntansi alat untuk menyampaikan informasi keuangan dari sebuah entitas usaha yang melakukan kegiatan bisnis. Dari perspektif pemakai akuntansi diperoleh informasi keuangan yang dibutuhkan. Jadi, akuntansi merupakan alat komunikas. Akuntansi disebut juga dengan bahasa bisnis. Akuntansi juga menyerupai bahasa bahwa sejumlah aturan akuntansi bersifat definitif sementara yang lain tidak.

 

1.2  Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen

 

Embrio akuntansi sekarang ini sudah ada sejak abad ke-13 di Italia merupakan kota perdagangan yang maju. Menurut Littleton, munculnya embrio disebabkan karena telah terpenuhinya persyaratan yang diperlukan. Transaksi dan data keuangan yang merupakan masukan (input) dalam sistem akuntansi masih relatif sederhana. Pada tahap ini 2 kelompok pemakai laporan keuangan yaitu manajemen, pihak internal perusahaan dan pihak eksternal, terdiri dari investor dan kreditor. Manajemen proses penyusunan laporan keuangan, sedangkan pemakai laporan keuangan yang lain, yaitu pemakai eksternal tidak mempunyai akses terhadap akses penyusunan laporan keuangan.

Tujuan manajemen berbeda denga tujuan pemakai eksternal, manajemen memerlukan informasi akuntansi sehubungan dengan fungsi manajerialnya. Timbul 2 tipe akuntansi, yaitu akuntansi manajemen yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan dan pengendalian serta pengambilan keputusan yang terkait dengan operasi perusahaan dan akuntansi keuangan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemakai eksternal akan informasi keuangan yang terkait dengan perusahaan yang bersangkutan. Bahwa akuntansi keuangan memerlukan regulasi atau standar, sementara akuntansi manajemen tidak memerlukan.

1.3  Perkembangan Praktik Akuntansi

 

Praktik akuntansi terus berubah, sesuai dengan kebutuhan, baik kebutuhan pelaksana akuntansi (sebagai penyedia informasi ) maupun kebutuhan penerima atau pencari informasi tersebut. Sebelum Perang Dunia Kedua, pengaruh akuntansi Inggris mendominasi seluruh negara berbahasa inggris dan pengaruh Perancis – Jerman menembus negara-negara yang menerpakan hukum undang-undang (code law) seperti Belgia, Jepang, Swedia dan Swiss.

            Diversitas Akuntansi yang merupakan rintangan terhadap globalisasi bisnis dan arus adata sudahdirasakan sejak tahun 1960-an . Organisasi-organisasi profesi akuntansi didunia membentuk International Accounting Standars Commite (IASC) pada tahun 1973, yang pada tahun 2000 direstrukturisasi menjadi International Accounting Standards Boards (IASB).

            Pada awalnya , standar-standar akuntansi international yang dibuat IASC dinyatakan oleh pemakai bahwa masih brsifat telalu luas, sehingga tidak memenuhi tingkat komparabilitas yang diharapkan. Tujuan didirikan IASB adalah membuat serangkaian regulasi akuntansi yang menghasilkan akuntansi yang dapat berfungsi sebagai sebuah bahasa bisnis yang komunikatif secara internasional sehingga transaksi bisnis lintas batas dapat berjalan baik. Oleh karena itu pada tahun 1987 IASC merespon kritik ini dengan membentuk Comparability Project yang tujuannya adalah meningkatkan komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi alternatif-alternatif yang tersedia dalam standar-standar IASC.

 

1.4  Diversitas Akuntansi

 

Akuntansi suatu yurisdiksi atau negara berbeda dengan akuntansi yurisdiksi atau negara lainnya, sesuai dengan faktor-faktor penyebab yang terdapat pada masing-masing yurisdiksi.

 

1.5  Pengukuran Aset dan Kewajiban

 

Para akuntan masih mengukur sebagaian besar aset bisnis dunia atas dasar biaya-biaya historis (history costs). IFRS yang diterbitkan oleh IASB. IFRS yang lebih banyak menggunakan fair value, telah menggusur pilihan terhadapnya PABU AS yang banyak menggunakan biaya-biaya historis.

Istilah asset atau aktiva tidak memiliki arti yang pasti, dalam pengertian sumberdaya yang harus dimasukkan dan sumberdaya yang harus dikeluarkan dari batasan mengenai asset. Ketidak pastian ini jyga meliputi interprestasi atas aset-aset tak berujud seperti goodwill,dan biaya riset dan pengembangan (R&D cost). Di Amerika Selatan, definisi aset termasuk kerugian-kerugian yang timbul karena memiliki utang dalam satuan valuta asing. Dinegara Eropa Kontinental, mungkin tidak meliputi berbagai tipe sewa guna usaha, tax loss carry-forwards, atau kepemilikkan ekonomi oleh induk perusahaan terhadap perusahaan-perusahaan afiliasi.

Maraknya merger korporasi selama tahun 80-an memperlihatkan dengan nyata bahwa penjual dan pembeli aset korporasi mau bertransasksi dengan nilai pertukaran yang secara signifikan melebihi nilai buku historis. Hal yang sebaiknya terjadi ketika perekonomian di Eropa Timur telah bisa diakses oleh perusahan-perusahaan bisnis barat, banyak orang yang berfikir bahwa aset-aset penting tersedia di Eropa Timur dengan harga yang murah. Anggapan ini terbukti salah setelah mereka mempertimbangkan keusangan teknik atas pabrik dan peralatan, efisiensi sistem, tingkat produktivitas pekerja dan solusi.

Kontroversi atas potensi pengakuan post employment benefit liabilities juga merupakan sebuah kasus. Di AS misalnya , sebagian besar perusahaan besar menyediakan biaya kesehatan kepada para karyawan yang tidak bekerja lagi sejauh biaya tersebut tidak ditutupi oleh Medicare atau perusahan-perusahaan asuransi swasta.

1.4.2 Penentuan Modal dan Laba Periodik

Variasi komparasi yang paling besar dalam area ekuitas pemilik (owner equity) berkenaan dengan sumberdaya atau kewajiban perusahaan tertentu bolewh dihapus secara langsung dari laba ditahan konsep “clean vs adjusted surplus”. Karena adanya kesulitan–kesulitan dalam memisahkan operasi-operasi bisnis normal dari kejadian-kejadian yang tidak biasa dan masalah-masalah periodisitas dalam penyesuain untuk periode lalu , AS menghendaki semua transaksi kecuali investasi pemegang saham, donasi modal, penambahan modal dan penyesuain translasi fungsional atas valas mengalir melalui laporan rugi laba.

Variasi penting yang lain adalah concept of periodicity dalam mengukur hasil operasi. PABU (GAAP) di AS menghendaki pemisahan (cut off) tahunan yang jelas. Tetapi di banyak negara Eropa dan Amerika Selatan, prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku menganggap satu tahun kalender merupakan periode yang sangat pendek untuk menentukan hasil bisnis secara memadai. Negara-negara yang mengizinkan penghalusan antar periode laporan. Di Swedia , lama daur bisnis seringkali dianggap sebagai periode waktu yang paling tepat untuk mengukur dan melaporkan hasil operasi bisnis. Karena banyaknya ketentuan khusus yang ada dalam kitab undang-undang pajak, maka di negara-negara ini laba buku dan laba pajak untuk periode tertentu seringkali berbeda secara signifikan.

Persyaratan-persyaratan hukum jelas mencampuri praktik akuntansi bagi transaksi-transaksi modal investasi. Misalnya, beberapa negara memiliki nominal yang seragam bagi kelas saham tertentu, negara lain menetapkan denominasi nilai yang berbeda bagi kelas sajam tertentu dan negara lainnya lagi malah tidak membolehkan saham-saham yang bernilai nominal. Konsolidasi laporan keungan sangat bervariasi. Tidak ada kesepakatan atas arti entitas akuntansi. Konsekuensinya, berbagai macam praktik konsolidasi multinasional dapat diatasi.

Hubungan antara aset dan kewajiban dengan penentuan laba periodik tentu saja menimbulkan efek resiprokal. Biasanya overstatement atau undrrstatement aset atau kewajiban dilaksanakan melalui inklusi atau ekslusi laporan laba rugi yang bersangkutan. Namun harus juga dicatat bahwa terdapat banyak variasi prosedural yang lebih kecil. Misalnya , goodwill yang dibeli boleh diamortisasi di AS selama 40 tahun, sedangkan di Jerman maksimum 5 tahun.Variasi prosedural yang mirip juga berlaku untuk biaya riset dan pengembangan, biaya eksplorasi minyak dan mineral, biaya promosi penjualan, pendidikan dan pelatihan staf dan berbgai transaksi atau kejadian lain.

1.5  Peran Akuntansi

 

Peran Akuntansi berbeda antar negara. Perbedaan peran ini dapat mempengaruhi orientasi dan kandungan informasi laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahan-perusahaan di masing-masing negara, yang selanjutnya akan mempengaruhi cara interprestasi dan penggunaan laporan keuangan tersebut. Pasar  modal domestik mungkin mempunyai dampak yang halus tetapi luas dan kekal terhadap perkembangan akuntansi di suatu negara. Tetapi akuntansi bukan hanya dipengaruhi, melainkan juga mempengaruhi pasar modal domestik. Disatu sisi, tuntunan pasar modal memberikan dasar pikiran untuk mengadopsi suatu bentuk akuntansi tertentu. Sebaliknya, akuntansi dianggap sebagai suatu persyaratan bagi pertumbuhan pasar modal domestik.

Akuntansi keuangan merupakan pusat dari proses alokasi sumber-sumber keuangan di pasar modal. Seabaliknya laporan keuangan adalah penting bagi terlaksananya pengawasan yang memadai yang dilaksanakan oleh bank dan institusi keuangan lain.  Institusi keuangan biasanya dituntut untuk memberikan laporan keuangan mereka kepada lembaga-lembaga pemerintah sebagai bahan dari pemenuhan tuntunan akuntanbilitas. Tuntunan regulatori terhadap bank dan institusi keuangan yang lain biasanya didasarkan pada informasi akuntansi yang disusun oleh perusahaan.

Bukti perusahaan bahwa laporan akuntansi adalah relevan dengan keputusan yang diambil oleh investor dalam pembelian atau penjualan saham. Art penting laporan akuntansi bagi para investor telah ditunjukkan oleh penelitian-penelitian terhadap para pemakai laporan keuangan dibanyak negara. Kaitan antara informasi akuntansi dan pasar sekuritas yang telah berkembang merupakan masalah kebijakan yang sangat krusial bagi negara yang kurang berkembang peminatnya untuk meningkatkan aliran modal guna pengembangan perekonomian mereka.

 

1.6  Korporasi Multinasional dan Keterlibatnya dalam Bisnis Internasional

 

Akuntansi Internasional terutama diperlukan oleh pasar modal yang telah mengglobal dan perusahaan yang bisnisnya mengglobal. Perusahaan yang paling globalisasi bisnisnya adalah perusahaan yang mempunyai transaksi utang-piutang dalam valuta asing(valas) sementara tingkat globalisasinya paling tinggi adalah korporasi multinasional (MNC, multinasional corporation). MNC adalah perusahaan yang terlibat dalam produksi dan penjualan barang atau jasa pada lebih dari satu negara.

            Kemampuan korporasi dalam menggunakan faktor-faktor produksi yang tersedia secara global merupakan faktor yang jauh lebih penting dalam pembentukan daya saing internasional daripada perbedaan makroekonomi antar negara. Bahwa manajemen MNC sangat membutuhkan informais keuangan internasional dalam mengelola korporasinya. Aliansi strategi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai variasi kolaborasi yang mempunyai arti penting strategis bagi satu atau lebih pihak yang terlibat. Aliansi strategis meliputi persetujuan pemberian lisensi, persetujuan waralaba, kontrak manajemen, dan kepemilikan bersama perusahaan asing.

 

1.7  Pengertian Akuntansi Internasional

 

Ada 2 tipe akuntansi yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Tujuan akuntansi manajemen adalah untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan manajemen, yang merupakan pihak internal perusahaan, didalam pengambilan keputusan dan pengelolaan perusahaan. Pedoman pokok didalam penyajian informasi akuntansi manajemen bahwa informasi tersebut dapat dipahami oleh pemakai , yaitu manajemen dan relevan denga pengambilan keputusan dan pengelolaan perusahaan, sehingga bermanfaat bagi manajemen sebagai salah satu sumber informasi yang diperlukan dalam pengelolaan perusahaan.

Akuntansi keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan yang bermanfaat bagi pihak eksternal dalam pengambilan keputusan ekonomi. Karena pihka eksternal tidak mempunyai akses terhadap proses penyusunan laporan keuangan, maka diperlukan standar dalam penyusunan laporan  keuangan tersebut.

Globalisasi yang melanda dunia menyebabkan semakin berkembang pasar modal dan transaksi bisnis yang menembus batas-batas wilayah negara, yang berati bahwa globalisasi juga melanda dunia bisnis. Globalisasi pasar modal ditunjukkan oleh semakin derasnya alur modal dari para investor dari negara lain. Ini merupakan fenomena positif, karena akan meningkatkan efisiensi penggunaan dana secara internasional.

Akuntansi manajemen berkenaan dengan penyediaan informasi untuk membantu manajemen dalam mengoperasikan perusahaan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Terutama pada perusahaan pencari laba, akuntansi manajemen berfokus pada upaya efisiensi yang berupa 1) pemanfaatan secara maksimal fasilitas perusahaan, dan 2)minimisasi pajak.

 

1.8  Lingkup Akuntansi Internasional dan Organisasi Buku Ini

 

Mempelajari akuntansi adalah mempelajari tentang apa dan bagaimana mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi keuangan serta bagaimana menginterprestasi dan menganalisis laporan keuangan. Akuntansi Internasional adalah akuntansi yang mempunyai prespektif internasional. Dalam prespektif internasional, akuntansi berkenaan dengan diversitas akuntansi dan keragaman yurisdiksi. Diversitas akuntansi merupakan problem yang telah ada, sedang dan akan terus diupayakan solusinya.

Diversitas akuntansi menimbulkan kesulitan dalam menginterprestasi dan menganalisis laporan keuangan yang dihasilkan. Solusi terhadap masalah ini sudah diupayakan sejak beberapa dasawarsa yang lalu, yang tentunya didasarkan atas pemahaman yang komprehensif atas arti-arti penting akuntansi dan mengapa terdapat diversitas akuntansi dan berujung pada upaya konvergensi akuntansi secara global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 11

 

11.8 Persetujuan Penentuan Harga Lanjutan

            Dengan bertumbuhnya volume perdagangan intra perusahaan, praktik penentuan harga transfer oleh perusahaan multinasional menjadi sangat diperhatikan oleh otoritas pajak diseluruh dunia. Karena upaya yang agresif oleh suatu negara biasanya akan diikuti oleh langkah yang sama oleh negara-negara lain, perusahaan multinasional sering berada dalam posisi tertembak dua arah yang berlawanan. Pada dasawarsa 1990-an, perusahaan multinasional mencari data yang lebih murah untuk menyelesaikan atau bahkan menghadapi perselisihan tentang penentuan harga jual terlebih dahulu dengan cara otoritas pajak. Salah satu mekanisme semacam itu adalah sebuah Advanced Princing Agreement (APA).

            Sebuah APA adalah sebuah persetujuan antara sebuah perusahaan dan suatu otoritas pajak dimana otoritas pajak akan menerima sebuah metode penentuan harga transfer yang disetujui yang digunakan oleh sebuah perusahaan untuk jangka waktu tertentu. Persetujuan ini bersifat formal, APA tercipta melalui sebuah proses penyelidikan formal, dan negosiasi yang dilaksanakan didasarkan pada undang-undang. Apple computer perusahaan pertama yang melakukan persetujuan pada awal tahun 1991 ketika menandatangani persetujuan dengan para otoritas pajak diAustralia dan AS untuk menetukan harga terhadap transaksi intra perusahaan dengan penentuan pajak.Sejumlah negara yg termasuk Australia, Jerman, Jepang, Belanda, Meksiko, Rumania, Inggris, dan AS mempunyai prosedur tipe APA yang formal.

            Proses APA mempunyai keunggulan dan kelemahan, aplikan dan otoritas pajak bekerja sama untuk menyetujui metode harga transfer, akan menjadikan hubungan antara perusahaan dan otoritas pajak menjadi lebih kooperatif, kelemahannya adalah bahwa pembayar pajak mungkin akan membocorkan rahasia sejumlah informasi kepemilikan sebagai bagian dari proses APA. Biaya perolehan APA merupakan bahan pertimbangan dan pembayar pajak perlu menyeimbangkan dengan biaya menjalani audit pajak penentuan harga transfer dilaksanakan oleh Earnst & Young bahwa APA digunakan di masa mendatang antar perusahaan multinasional yang berbeda-beda negaranya.

SUMBER : http://tanti-tantitriarahayuyahoocoid.blogspot.com/2013/04/akuntansi-internasional.html

AKUNTANSI INTERNASIONAL

0

Akuntansi internasional adalah akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Perkembangan akuntansi internasional sekarang ini semakin pesat dan perhatian profesi akuntan pun terhadap masalah ini semakin besar. Ada tiga kemungkinan pengertian orang terhadap akuntansi internasional ini.

Pertama, konsep parent-foreign subsidiary accounting atau accounting for foreign subsidiary. Konsep ini yang paling tua. Di sini dianggap bahwa akuntansi internasional hanya menyangkut proses penyusunan laporan konsolidasi dari perusahaan induk dengan perusahaan cabang yang berada diberbagai Negara

Kedua, konsep comperative atau international accounting yang menekankan pada upaya mempelajari dan mencoba memahami perbedaan akuntansi di berbagai Negara. Di sini menyangkut mengakuan terhadap perbedaan akuntansi dan praktik pelaporan, pemgakuan terhadap prinsip dan praktik akuntansi di masing-masing Negara, dan kemapuan untuk mengetahui dampak perbedaan itu dalam pelaporan keuangan. Umumnya pengertian international accounting adalah menggunakan konsep comparative accounting ini.

Ketiga, universal atau world accounting yang berarti merupakan kerangka atau konsep di mana kita memiliki satu konsep akuntansi dunia termasuk didalamya teori dan prinsip akuntansi yang berlaku disemua Negara. Ini merupakan tujuan akhir dari international accounting.

Weirich et.al (Belkaoui, 1985) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai berikut.

Mencakup semua perbedaan prinsip, metode dam standar akuntasi semua Negara. Termasuk didalamnya prinsip akuntasi ( GAAP) yang yang ditetapkan di tiap Negara, sehingga akuntan harus menguasai semua prinsip di semua Negara jika mempelajari akuntansi internasional. Tidak ada maksud untuk memiliki prinsip yang berlaku umum sedunia. Perbedaan ini diakui karena adanya perbedaan geografi , sosial, ekonomi, politik, dan hukum.

Menurut Belkaoui (1985) beberapa determinan yang mengakibatkan perbedaan tujuan, standar, kebijakan, dan teknik akuntansi adalah :

1. Relativisme budaya

2. Relativisme bahasa

3. Relativisme politik dan sipil

4. Relativisme ekonomi dan penduduk

5. Relativisme hukum dan pajak

Lima determinan inilah yang akan menentukan sistem palaporan dan pengungkapan di masing-masing Negara sehingga menimbulkan beberapa perbedaan antara satu Negara dengan Negara lain. Dengan demikian, diperlukan akuntansi internasinal. Belkaoui (1976) mengemukakan adanya relativisme agama dalam akuntansi khususnya agama islam yang memiliki sistem ekonomi dan keuangan tersendiri yang berdampak juga pada laporan keuangannya. Antara bank konvensional dan bank islam, ada beberapa perbedaan prinsipil seperti masalah pengenaan bunga, investasi yang sesuai dengan syariah, produk dana pihak ketiga, pembiayaan yang boleh dilakukan zakat dan sebagianya. Perbedaan ini menimbulkan perbedaan beberapa sistem atau format laporan akuntansi antara akuntansi konvesional dan akuntasi islam.

Untuk mengatasi permasalahan ini Mueller (1976) mengemukakan tiga usul, yaitu sebagai berikut :

1. Setiap perusahaan menyusun laporan keuangan primer dan sekunder

2. Single-Domicile reporting, artinya laporan keuangan disusun menurut standar dari domisili perusahaan tersebut.

3. Laporan keuangan disusun menurut standar internasional.

Sejarah Akuntansi Intenasional

Sejarah akuntansi merupakan sejarah internasional. Kronologi berikuk ini menunjukkan bahwa akuntansi telah meraih keberhasilan besar dalam kemampuanya untuk diterapkan dari satu kondisi ke kondisi lainnya sementara di pihak lain memungkinkan timbulnya pengembangan teres-menerus dalam bidang teori dan praktik di seluruh dunla. Sebagai permulaan, sistem pembukuan berpasangan (doithfe-entru Lookkreping), yang umumnya dianggap sebagai awal penciptaaa akuntansi seperti yang kita ketahui selama ini, berawal dari negam-negah kota di Italia pida abad ke-14 dan 15.

Perkernbangannya didorong oleh pertumbuhan perdagangan intemasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial. ”Pembukuan Italia” kemudian berilih ke Jerman untuk membantu para pedagang pada zaman Fugger dan Kelompok Hanseatik. Pada waktu yang hampir bersamaan, para filsuf hitvis di Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodik dan aparat pemerintah di Prancis menemukan keuntungan menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.  

Perkembangan Inggris Raya menciptakan kebutuhan yang tak terelakkan lagi bagi kepentingan komersial Inggris untuk mengelola dan mengendalikan perusahaan di daerah koloni, dan untuk pencatatan perusahaan kolonial mereka yang akan diperiksa ulang dan diverifikasi. Kebutuhan-kebutuhan mi menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi pada tshun 1850-an dan suatu profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris selama tahun 1870-an. Paktik akuntansi laggris memyebar luas tidak hanya di seluruh Amerika Utara, tetapi juga di seluruh wilayah Persemakmuran Inggris yang ada waktu itu.

Perkembangan pembukuan pencatatan berpasangan. Perkembangan tersebut meliputi hal-hal berikut ini :

1. Sekitar abad ke-16 terjadi beberapa perubahan di dalam teknik-teknik pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkan jurnal-jurnal khusus untuk pencatatan berbagai jenis transaksi yang berbeda.

2. Pada abad ke-16 dan 17 terjadi evolusi pada praktik laporan keuangan periodik. Sebagai tambahan lagi, di abad ke-17 dan abad ke-18 terjadi evolusi pada personifikasi dari seluruh akun dan transaksi, sebagai suatu usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada akun-akun yang tidak pasti hubungannya dan abstrak.

3. Penerapan sistem pencatatan berpasangan juga diperluas ke jenis-jenis organisasi yang lain.

4. Abad ke-17 juga mencatat terjadinya penggunaan akun-akun persediaan yang terpisah untuk jenis barang yang berbeda.

5. Dimulai dengan East India Company di abad ke-17 dan selanjutnya diikuti dengan perkembangan dari perusahaan tadi, seiring dengan revolusi industri, akuntansi mendapatkan status yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya, dan kepercayaan yang diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan, periodisitas, dan akrual.

6. Metode-metode untuk pencatatan aktiva tetap mengalami evolusi pada abad ke-18.

7. Sampai dengan awal abad ke-19, depresiasi untuk aktiva tetap hanya diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual.

8. Akuntansi biaya muncul di abad ke-19 sebagai sebuah hasil dari revolusi industri.

9. Pada paruh terakhir dari abad ke-19 terjadi perkembangan pada teknik-teknik akuntansi untuk pembayaran dibayar di muka dan akrual, sebagai cara untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodik.

10. Akhir abad ke-19 dan ke-20 terjadi perkembangan pada laporan dana.

11. Di abad ke-20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk isu-isu kompleks, mulai dari perhitungan laba per saham, akuntansi untuk perhitungan bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa jangka panjang dan pensiun, sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru dari rekayasa keuangan (financial engineering).

Isu-isu Akuntansi Internasional

Konsep dari akuntansi universal atau dunia adalah yang paling luas ruang lingkupnya. Konsep ini mengarahkan akuntansi internasioanal menuju formulasi dan studi atas satu kumpulan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara universal. Tujuannya adalah untuk mendapatkan satu standardisasi lengkap atas prinsip-prinsip akuntansi secara internasional.

Di dalam kerangka kerja konsep ini, akuntansi internasional dianggap sebagai sebuah sistem universal yang dapat diterapkan di semua negara. Sebuah seperangkat prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (generally accepted accounting principles-GAAP) yang diterima di seluruh dunia, seperti yang berlaku di Amerika Serikat, akan dibentuk. Praktik dan prinsip-prinsip yang dikembangkan akan dapat diberlakukan di seluruh negara. Konsep ini akan menjadi sasaran tertinggi dari suatu sistem internasional.

Konsep dari akuntansi komparatif atau akuntansi internasional mengarahkan akuntansi internasional kepada studi dan pemahaman atas perbedaan-perbedaan nasional di dalam skuntansi. Hal ini meliputi :

1. Kesadaran akan adanya keragaman internasional di dalam akuntansi perusahaan dan praktik-praktik pelaporan.

2. Pemahaman akan prinsip-prinsip dan praktik-praktik akuntansi dari masing-masing negara.

3. Kemampuan untuk menilai dampak dari beragamnya praktik-praktik akuntansi pada pelaporan keuangan.

Munculnya paradigma baru di dalam akuntansi internasional memperluas kerangka kerja dan pemikiran untuk memasukkan ide-ide baru dari akuntansi internasional. Sebagai akibatnya, terbit daftar yang sangat panjang akan konsep-konsep dan teori-teori akuntansi yang dibuat oleh Amenkhienan untuk memasukkan hal-hal sebagai berikut :

1. Teori universal atau dunia

2. Teori multinasional

3. Teori komparatif

4. Teori transaksi-transaksi internasional

5. Teori translasi

Masing-masing teori-teori di atas memberikan dasar bagi pengembangan dari sebuah kerangka kerja konseptual untuk akuntansi internasional. Meskipun akan terdapat argumentasi mengenai teori manakah yang akan lebih disukai.

 

SUMBER : http://astutimulefa.blogspot.com/2012/07/akuntansi-internasional.html

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT SINGAPORE TELECOMMUNICATION

0

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Tidak bisa dipungkiri lagi perkembangan dunia usaha di Indonesia yang semakin kompetitif menuntut setiap perusahaan untuk dapat mengolah dan melaksanakan manajemen perusahaan menjadi lebih profesional. Bertambahnya pesaing disetiap saat, baik pesaing yang berorientasi lokal maupun pesaing yang berorientasi international (multinational corporation), maka setiap perusahaan harus berusaha menampilkan yang terbaik, baik dalam segi kinerja perusahaan, juga harus ditunjang dengan strategi yang matang dalam segala segi termasuk dalam manajemen keuangan.

Manajemen keuangan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kegiatan dan eksistensi suatu perusahaan serta berpengaruh pula pada setiap individu yang ada dalam perusahaan tersebut. Oleh karena itu, seorang manajer keuangan dituntut untuk dapat menjalankan manajemen keuangan dengan baik, hal ini dilakukan agar perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasional perusahaan dengan lebih efektif dan efisien, sehingga perusahaan dapat mengembangkan dan mempertahankan aktivitas serta keberadaan perusahaan.

Selain manajemen yang baik, dalam suatu perusahaan juga memerlukan analisis terhadap laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mengatasi masalah-masalah keuangan perusahaan serta mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Melalui analisis laporan keuangan, manajemen dapat mengetahui posisi keuangan, kinerja keuangan dan kekuatan keuangan (financial strength) yang dimiliki perusahaan. Selain berguna bagi perusahaan dan manajemennya, analisis laporan keuangan juga diperlukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan lain seperti kreditor, investor dan pemerintah untuk menilai kondisi keuangan perusahaan dan perkembangan dari perusahaan tersebut.

Analisis rasio laporan keuangan yang lazim digunakan adalah analisis rasio likuiditas atau rasio modal kerja, analisis rasio solvabilitas, dan analisis rasio profitabilitas. Analisis rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan. Analisis rasio solvabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang perusahaan. Analisis rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang dihasilkan dari penjualan.

Singapore Telecommunications Limited adalah perusahaan telekomunikasi terbesar Singapura. Bila pelanggan dari anak perusahaannya digabungkan perusahaan ini memiliki 71 juta pelanggan, dengan begitu SingTel merupakan operator jaringan ponsel terbesar di Asia Pasifik di luar Republik Rakyat Tiongkok. Dulunya merupakan sebuah monopoli pemerintah namun telah diswastanisasikan pada 1992, SingTel juga melakukan jasa dibidang pos, SingPost pada 2003 dan kini berkonsentrasi sebagai penyedia jasa internet, telepon genggam, dan telepon.

SingTel telah mengembangkan diri secara agresif di luar pasar Singapura dan memiliki banyak saham di operator regional lainnya, termasuk 100% saham perusahaan telekomunikasi Australia Optus, diambilalih pada 2000 dari Cable and Wireless dan pemegang saham Optus lainnya. Selain itu, SingTel juga berinvestasi di Indonesia dengan memiliki 35% saham Telkomsel, sebuah operator telepon genggam.

SingTel sebagian besar dimiliki oleh perusahaan kendaraan investasi negara Temasek Holdings. SingTel saat ini dikepalai oleh Lee Hsien Yang, anak termuda dari bekas perdana menteri, sekarang dikenal sebagai Menteri Penasehat Lee Kuan Yew dan saudara dari perdana menteri Singapura sekarang (2005) Lee Hsien Loong.

 

B.      Rumusan Masalah

Bagaimana kondisi laporan keuangan pada Singapore Telecommunications Limited ?

Seberapa Bagus Kinerja Keuangan pada Singapore Telecommunications Limited ?

Bagaimana Kinerja Keuangan pada Singapore Telecomunications jika diukur dengan menggunakan EVA ?

 

 Tujuan

Untuk mengetahui kondisi laporan keuangan pada Singapore Telecommunications Limited.

Untuk mengetahui Seberapa Bagus Kinerja Keuangan pada Singapore Telecommunications Limited.

Untuk mengetahui Kinerja Keuangan Perusahaan Singapore Telecomunications jika diukur dengan menggunakan EVA.

 

 

BAB II

 LANDASAN TEORI

 

 

II.1. Pengertian Laporan Keuangan

 

Sebelum kita membahas mengenai apa yang dimaksudkan dengan laporan keuangan, lebih baik jika pertama kita mengerti terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan akuntansi itu sendiri.

Munawir (1995) mendefinisikan, “Akuntansi adalah seni daripada pencatatan, penggolongan dan peringkasan daripada peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang setidak-tidaknya sebagian bersifat keuangan dengan cara yang setepat-tepatnya dan dengan penunjuk atau dinyatakan dalam uang, serta penafsiran terhadap hal-hal yang timbul daripadanya“ (h. 5).

Smith dan Skousen yang diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Penerbit Erlangga (1997) menyatakan, “Akuntansi adalah aktivitas jasa, fungsinya adalah untuk menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas (kesatuan) usaha yang dipandang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi dalam menetapkan pilihan yang tepat diantara berbagai alternatif tindakan“ (h. 3).

Tunggal (1995) mendefinisikan, “Akuntansi adalah suatu sistem informasi, yaitu data keuangan dari suatu bisnis dicatat, dikumpulkan, dan dikomunikasikan yang akan digunakan untuk mengambil suatu keputusan. Akuntansi adalah suatu bahasa bisnis ( language of business ). Sebagai suatu bahasa, maka akuntansi harus mempunyai sifat yang komunikatif, agar dapat dimengerti oleh pihak yang menggunakannya” (h. 1).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi merupakan suatu ringkasan dari suatu proses pencatatan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu, yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi informasi ekonomi untuk bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dan menetapkan pilihan yang tepat diantara berbagai alternatif tindakan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut.

Produk akhir dari suatu proses Sistem Akuntansi ialah terciptanya suatu laporan keuangan. Oleh karena itu sebelum membahas lebih lanjut mengenai laporan keuangan akan lebih baik jika sudah mengetahui pengertiannya.

Fess dan Warren yang diterjemahkan oleh Sirait, A. Dan Gunawan, H. (1995) mendefiniskan, “Laporan Keuangan adalah laporan akuntansi yang menghasilkan informasi” (h. 18).

Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI ) (2002) menyatakan, “Laporan Keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan” (h. 2).

Munawir (1995) mendefinisikan, “Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagi alat untuk berkomunikasi antara data keuangnan atau aktifitas perusahaan tersebut” (h. 2).

Tunggal (1995) mendefinisikan, “Laporan Keuangan adalah pertanggungjawaban pimpinan suatu perusahaan kepada pemegang saham atau kepada masyarakat umum tentang pengelolaan yang dilaksanakan olehnya dalam suatu masa tertentu, biasanya satu tahun” (h. 79).

Dari definisi tentang laporan keuangan tersebut diatas, maka dapat ditarik simpulan bahwa suatu laporan keuangan merupakan hasil ringkasan data keuangan yang

dapat memberikan informasi keuangan tentang keadaan perusahaan pada suatu periode tertentu yang dapat dijadikan sebagai salah satu dasar di dalam pengambilan keputusan.

 

Perhitungan Economic Value Added

  Langkah-langkah menghitung EVA

 

PT. TELKOM TAHUN 2012

 

NOPAT

NOPAT = EAT + Biaya bunga

         = Rp 374.404.289 + (Rp 75.500)

         = Rp 374.328.789

Jadi, setelah dilakukan penyesuaian terhadap laba bersih dan biaya bunga maka perusahaan mendapat keuntungan sebesar Rp 374.328.789

 

Invested Capital

Invested Capital = Kas + Modal + Aktiva Tetap

   Rp 13.118 + Rp 66.978 + Rp 77.047 = Rp 157.143

Jadi, modal yang diinvestasikan oleh PT. Telkom dalam bentuk aset yang digunakan dalam aktivitas operasional sebesar Rp 157.143

 

Tingkat modal dari hutang (D)

 

               Total Hutang 

     Tingkat Modal = X 100%

                      Total Hutang & Ekuitas

                   Rp 44.391

                               = X 100%

                   Rp 111.369

 

             = 39,8593 %

Jadi, pendanaan investasi yang berasal dari hutang mencapai 39,8593 %

 

 

 

 

Cost of Debt (Rd)

 

   Biaya bunga

Biaya hutang = X 100%

    Total Hutang 

 

   Rp 755

                       = X 100%

   Rp 44.391

 

     = 1,7007 %

Jadi, biaya modal yang berasal dari biaya hutang mencapai 1,7007 %

 

Presentase pajak penghasilan (T)

 

          Beban Pajak 

    Tingkat Pajak = X 100%

   Laba Sebelum Pajak 

 

                                  Rp 5.866

          = X 100%

        Rp 24.228

 

       = 24,2116 %

Jadi, presentase pajak penghasilan yang dibebankan kepada perusahaan sebesar 24,2116 %%

 

Cost of Equity (Re)

 

       1

    Cost of Equity = X 100%

   PER

 

     PER Tahun 2012 = 3,32 %

 

        1

    Cost of Equity = X 100%

   3.32 %

 

          = 30,12 %

Jadi, presentase biaya modal dari biaya ekuitas sebesar 30,12 %

 

Tingkat Modal dari Ekuitas (E)

 

       Total Ekuitas

     E = X 100%

           Total Hutang & Ekuitas

 

          Rp 66.978

   = X 100%

                     Rp 111.369

    

          = 60,14 %

Jadi, pendanaan investasi yang berasal dari ekuitas mencapai 60,14 %

 

 

Weighted Average Cost of Capital (WACC)

         WACC = { D x (1-Tax)} + (E x)

   WACC = { 39,8593 % x 1,7007 % (1 – 24,2116 % )} + (60,14 % x 30,12 % )

         = 186.279,28 %

Jadi, presentase weighted average cost of capital sebesar 186.279,28 %

 

Hutang Modal ( Capital Charge)

    Capital Charge = Invested x WACC

            = Rp 157.143 x 186.279,28 %

            = Rp 292.724.849

Jadi, beban modal yang telah memperhitung biaya hutang dan biaya ekuitas secara rata-rata tertimbang sebesar Rp 292.724.849

 

EVA

    EVA = NOPAT – Capital Charge

        = Rp 374.328.789 – Rp 292.724.849

        = Rp 81.603.940

Jadi, pada tahun 2008 PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. menciptakan nilai tambah ekonomis sebesar Rp 81.603.940

Perhitungan Economic Value Added

  Langkah-langkah menghitung EVA

 

PT. TELKOM TAHUN 2012

 

NOPAT

NOPAT = EAT + Biaya bunga

         = Rp 374.404.289 + (Rp 75.500)

         = Rp 374.328.789

Jadi, setelah dilakukan penyesuaian terhadap laba bersih dan biaya bunga maka perusahaan mendapat keuntungan sebesar Rp 374.328.789

 

Invested Capital

Invested Capital = Kas + Modal + Aktiva Tetap

   Rp 13.118 + Rp 66.978 + Rp 77.047 = Rp 157.143

Jadi, modal yang diinvestasikan oleh PT. Telkom dalam bentuk aset yang digunakan dalam aktivitas operasional sebesar Rp 157.143

 

Tingkat modal dari hutang (D)

 

               Total Hutang 

     Tingkat Modal = X 100%

                      Total Hutang & Ekuitas

 

 

 

                   Rp 44.391

                               = X 100%

                   Rp 111.369

 

             = 39,8593 %

Jadi, pendanaan investasi yang berasal dari hutang mencapai 39,8593 %

 

 

 

 

Cost of Debt (Rd)

 

   Biaya bunga

Biaya hutang = X 100%

    Total Hutang 

 

   Rp 755

                       = X 100%

   Rp 44.391

 

     = 1,7007 %

Jadi, biaya modal yang berasal dari biaya hutang mencapai 1,7007 %

 

Presentase pajak penghasilan (T)

 

          Beban Pajak 

    Tingkat Pajak = X 100%

   Laba Sebelum Pajak 

 

                                  Rp 5.866

          = X 100%

        Rp 24.228

 

       = 24,2116 %

Jadi, presentase pajak penghasilan yang dibebankan kepada perusahaan sebesar 24,2116 %%

 

Cost of Equity (Re)

 

       1

    Cost of Equity = X 100%

   PER

 

     PER Tahun 2012 = 3,32 %

 

        1

    Cost of Equity = X 100%

   3.32 %

 

          = 30,12 %

Jadi, presentase biaya modal dari biaya ekuitas sebesar 30,12 %

 

Tingkat Modal dari Ekuitas (E)

 

       Total Ekuitas

     E = X 100%

           Total Hutang & Ekuitas

 

          Rp 66.978

   = X 100%

                     Rp 111.369

    

          = 60,14 %

Jadi, pendanaan investasi yang berasal dari ekuitas mencapai 60,14 %

 

 

Weighted Average Cost of Capital (WACC)

         WACC = { D x (1-Tax)} + (E x)

   WACC = { 39,8593 % x 1,7007 % (1 – 24,2116 % )} + (60,14 % x 30,12 % )

         = 186.279,28 %

Jadi, presentase weighted average cost of capital sebesar 186.279,28 %

 

Hutang Modal ( Capital Charge)

    Capital Charge = Invested x WACC

            = Rp 157.143 x 186.279,28 %

            = Rp 292.724.849

Jadi, beban modal yang telah memperhitung biaya hutang dan biaya ekuitas secara rata-rata tertimbang sebesar Rp 292.724.849

 

EVA

    EVA = NOPAT – Capital Charge

        = Rp 374.328.789 – Rp 292.724.849

        = Rp 81.603.940

Jadi, pada tahun 2008 PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. menciptakan nilai tambah ekonomis sebesar Rp 81.603.940

PT. SINGAPORE TELECOMMUNICATIONS TAHUN 2012

 

NOPAT

NOPAT = EAT + Biaya bunga

         = 398.951 + (356,4)

         = 398.594,6

Jadi, setelah dilakukan penyesuaian terhadap laba bersih dan biaya bunga maka perusahaan mendapat keuntungan sebesar 398.594,6

 

Invested Capital

Invested Capital = Kas + Modal + Aktiva Tetap

   254,4 + 66.721 + 472,1 = 793.212

Jadi, modal yang diinvestasikan oleh PT. Sing Tel dalam bentuk aset yang digunakan dalam aktivitas operasional sebesar 793.212

 

Tingkat modal dari hutang (D)

 

               Total Hutang 

     Tingkat Modal = X 100%

                      Total Hutang & Ekuitas

 

 

 

                   4.082,1

                               = X 100%

                   9.846,9

 

             = 41,4556 %

Jadi, pendanaan investasi yang berasal dari hutang mencapai 41,4556 %

 

 

Cost of Debt (Rd)

 

   Biaya bunga

Biaya hutang = X 100%

    Total Hutang 

 

   356,4

                       = X 100%

   4.082,1

 

     = 8,7308 %

Jadi, biaya modal yang berasal dari biaya hutang mencapai 8,7308 %

 

Presentase pajak penghasilan (T)

 

          Beban Pajak 

    Tingkat Pajak = X 100%

   Laba Sebelum Pajak 

 

                                  3.291,2

          = X 100%

        31.172

 

       = 10,558 %

Jadi, presentase pajak penghasilan yang dibebankan kepada perusahaan sebesar 10,558 %

 

Cost of Equity (Re)

 

       1

    Cost of Equity = X 100%

   PER

 

     PER Tahun 2012 = 4,14 %

 

        1

    Cost of Equity = X 100%

   4,14 %

 

          = 100,241 %

Jadi, presentase biaya modal dari biaya ekuitas sebesar 100,241 %

 

Tingkat Modal dari Ekuitas (E)

 

       Total Ekuitas

     E = X 100%

           Total Hutang & Ekuitas

 

          66.712

   = X 100%

                     9.846,9

    

          = 677,492 %

Jadi, pendanaan investasi yang berasal dari ekuitas mencapai 677,492 %

 

Weighted Average Cost of Capital (WACC)

         WACC = { D x (1-Tax)} + (E x)

   WACC = {4,4556 % x 8,7308 % (1 – 10,558 %)} + (677,492 % x 100,241 %)

         = 406,82 %

Jadi, presentase weighted average cost of capital sebesar 406,82 %

 

Hutang Modal ( Capital Charge)

    Capital Charge = Invested x WACC

            = 792.212x 406,82 %

            = 322.694.505,8

Jadi, beban modal yang telah memperhitung biaya hutang dan biaya ekuitas secara rata-rata tertimbang sebesar 322.694,5058

 

EVA

    EVA = NOPAT – Capital Charge

        = 398.594,6 – 322.694.5058

        = 75.900,09

 

Jadi, pada tahun 2012 PT. Singapore Telecomunications menciptakan nilai tambah ekonomis sebesar 75.900,09

 

Hasil pengukuran kinerja pada PT. TELKOM dan PT. SINGAPORE TELECOMMUNICATIONS diperoleh EVA>0 atau bernilai positif artinya perusahaan mampu memenuhi harapan pemilik modal sehingga para investor tidak khawatir untuk menanamkan modal sahamnya karena dengan kinerja perusahaan yang baik maka tingkat pengembaliannya terhadap investor akan lebih baik lagi, serta perusahaan harus mampu mempertahankan besar aktiva yang dimilikinya untuk digunakan sebagai kompensasi atau intensif kepada pihak manajemen sebagai pengelola Invested Capital.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

III.1 Kesimpulan

Laporan keuangan adalah ringkasan transaksi keuangan sehingga datanya tidak terperinci bahkan mungkin tidak asli lagi karena sudah diolah dengan sedemikian rupa sehingga kelihatan baik karena itu perlu pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang akuntan umum yang independent agar dapat dipercaya keasliannya.

Seorang analis dalam melakukan analisis keuangan harus melakukan beberapa langkah, yaitu:

Menentukan tujuan dari analisis keuangan

Memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan keuangan

Memahami kondisi ekonomi dan bisnis yang mempengaruhi usaha perusahaan tersebut.

Analisa keuangan digunakan untuk menilai kelangsungan usaha, stabilitas, profitabilitas dari suatu usaha, sub usaha atapun proyek.Analisa keuangan dilakukan oleh seorang profesional yang menyajikan laporan dalam bentuk rasio yang menggunakan informasi sebagaimana tersaji dalam laporan keuangan. Laporan ini biasanya disajikan kepada pimpinan puncak suatu usaha sebagai acuan untuk mengambil suatu kebijakan perusahaan.Berdasarkan hasil analisa ini maka manajemen dapat memutuskan berbagai keputusan manajemen misalnya :

Melanjutkan atau tidak melanjutkan operasional suatu usaha atau bagian dari suatu usaha.

Melakukan pembuatan atau pembelian bahan baku dalam proses produksi

Melakukan pembelian atau menyewa mesin-mesin produksi.

Melakukan penerbitan saham atau melakukan negosiasi untuk memperoleh pinjaman bank guna meningkatkan modal kerja perseroan.

Berbagai keputusan lainnya yang memungkinkan manajemen melakukan pilihan yang tepat terhadap berbagai alternatif yang ada dalam mengelola perusahaan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Harahap, Sofyan Syafri, Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, Edisi Ke-1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008

Ikatan Akuntan Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1, Revisi 2009, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, Jakarta, 2009

Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ke 1-5, Rajawali Pers, Jakarta,    2012

Munawir, S., Analisa Laporan Keuangan, Edisi Ke-4, Liberty, Yogyakarta, 2007

Nuh, Muhammad, Principle Accounting, Fajar, Jakarta, 2006

Sugiono, Arief dan Edy Untung, Panduan Praktis Dasar Analisa Laporan Keuangan, PT. Grasindo, Jakarta, 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT.TELKOM

0

Akuntansi Internasional

Kelompok 3 :
Alien Dwi Putri
Anindya Dita Khoirina
Anita Hotmaulina Manik
Sarah Triwulan
Yolanda Bella Chrisandri
Kelas : 4EB13

UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2013

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Good Corporate Governance (CG) merupakan isu yang relatif baru dalam dunia manajemen bisnis. Secara umum, Corporate Governance terkait dengan sistem mekanisme hubungan yang mengatur dan menciptakan insentif yang pas diantara para pihak yang mempunyai kepentingan pada suatu perusahaan agar perusahaan dimaksud dapat mencapai tujuan-tujuan usahanya secara optimal.
Corporate Governance itu adalah suatu sistem yang dibangun untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sehingga tercipta tata hubungan yang baik, adil dan transparan di antara berbagai pihak yang terkait dan memiliki kepentingan (stakeholder) dalam perusahaan.
Good Corporate Governance (GCG) juga berarti suatu proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan akuntabilitas perusahaan dengan tujuan utama mempertinggi nilai saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lain.
Saat ini penerapan Good Corporate Governance (“GCG”) DIselaraskan dengan dinamika bisnis yang terjadi. Untuk mewujudkannya, Telkom menerapkan GCG yang terintegrasi dengan pengelolaan kepatuhan, manajemen risiko dan pengendalian internal. Langkah ini Kami tempuh agar Perusahaan memiliki pengetahuan dan kapabilitas untuk mengelola Governance, Risk and Compliance (“GRC”) yang sejalan dengan pengelolaan kinerja bisnis dan mampu mengantarkan organisasi mencapai kelangsungan hidup Perusahaan. Terutama penerapan manajemen risiko, meskipun awalnya tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk dapat menguasai kompetensi, memperoleh keakuratan dalam mengidentifikasi risiko industri dan organisasi, serta mampu menjadikan budaya risiko sebagai bagian dari budaya karyawan, akhirnya berkat kesungguhan/konsistensi dan kesabaran manajemen saat ini diperoleh hasil manajemen risiko telah mewarnai dan berkontribusi positif dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan dan penguatan penerapan GCG di Telkom Group.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi masalah dalam makalah kami ini dalah sebagai berikut:
Apa yang dimaksud dengan tata kelola (Governance) ?
Bagaimana penerepan tata kelola dalam perencanaan perusahaan ?

TUJUAN MASALAH
Adapun yang menjadi tujuan dari makalah ini dalah sebagai berikut:
Menjelaskan apa yang dimaksud dengan tata kelola (Governance).
Menjelaskan penerapan tata kelola dalam perencanaan perusahaan .

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN GOVERNANCE
Menurut Shann Turnbull (1997), tata kelola perusahaan menggambarkan semua pengaruh yang mempengaruhi proses kelembagaan, termasuk menunjuk kontroler dan atau regulator, yang terlibat dalam mengorganisir produksi dan penjualan barang serta jasa. Dijelaskan juga bahwa tata kelola perusahaan mencakup semua jenis perusahaan atau perusahaan yang didirikan tidak menurut hukum perdata.
Sedangkan menurut Gillan & Starks (1998) dalam Gillan (2006) mendefinisikan tata kelola perusahaan sebagai sistem dari hukum-hukum, gangguan-gangguan, dan faktor-faktor yang mengontrol operasi pada perusahaan. Dengan mengabaikan definisi khusus yang biasa digunakan, penelitian-penelitian biasanya melihat mekanisme tata kelola perusahaan sebagai masuknya satu dari dua kelompok: baik internal perusahaan atau eksternal perusahaan.
Dari kedua definisi diatas, maka kami menyimpulkan bahwa tata kelola perusahaan adalah suatu sistem kontrol perusahaan yang mencakup pihak internal maupun eksternal perusahaan dalam mengelola perusahaan tersebut.
Gambar di atas menggambarkan tentang Corporate governance: beyond the balance sheet model.
Dalam gambar ini memberikan perspektif yang lebih komprehensif dari perusahaan dan tata kelola perusahaan. Undang-undang, pasar, politik, budaya, dan komunitas berperan penting dalam tata kelola perusahaan selain faktor-faktor internalnya. Ini menunjukkan kenyataan dari lingkungan tata kelola. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, beberapa negara bagian memiliki undang-undang stakeholder di mana tawaran pengambilalihan yang tidak diminta dapat ditolak jika pengambilalihan ini berdampak buruk terhadap masyarakat disekitar tempat perusahaan beroperasi.
Tata kelola pusat terbagi menjadi dua klasifikasi luas, yaitu Tata Kelola Internal dan Tata Kelola Eksternal. Gillan dan Starks (1998) dalam Gillan (2006) membagi Tata Kelola Internal ke dalam 5 kategori dasar, yaitu:
Dewan direksi (meliputi peran, struktur, dan insentif mereka)
Insentif manajerial
3. Struktur modal
4. Anggaran rumah tangga dan piagam ketentuan (atau tindakan antitakeover)
5. Sistem pengendalian internal

Sedangkan Tata Kelola Eksternal juga dibagi ke dalam 5 kelompok dasar, yaitu:
1. Hukum dan peraturan, khususnya hukum federal, peraturan organisasi tersebut, hukum negara bagian
2. Pasar1 (meliputi pasar modal, pasar untuk pengendalian perusahaan, pasar tenaga kerja, dan, pasar produk)
3. Pasar 2 meliputi pemberi tekanan pada penyedia informasi pasar modal (seperti pemberi kredit, modal, dan analis tata kelola)
4. Pasar 3, berfokus pada akuntansi, keuangan, dan layanan resmi dari pihak luar untuk perusahaan (termasuk proses audit, direksi, dan pekerja penanggung jawab asuransi dan penasehat investasi perbankan)
5. Sumber pribadi dari pengawasan eksternal, terutama media dan tuntutan hukum eksternal.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 KONSEP DAN LANDASAN
Konsep penerapan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang baik (GCG) dalam organisasi Perusahaan berlandaskan pada komitmen untuk menciptakan Perusahaan yang transparan, dapat dipertanggung jawabkan (accountable), dan terpercaya melalui manajemen bisnis yang dapat dipertanggung jawabkan. Penerapan praktik-praktik GCG merupakan salah satu langkah penting bagi Telkom untuk meningkatkan dan memaksimalkan nilai Perusahaan (corporate value), mendorong pengelolaan Perusahaan yang profesional, transparan dan efisien dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan adil sehingga dapat memenuhi kewajiban secara baik kepada Pemegang Saham, Dewan Komisaris, mitra bisnis, serta pemangku kepentingan.
Mengingat pentingnya GCG maka telah dilakukan bentuk penguatan komitmen manajemen seluruh komisaris dan Direksi Telkom Group pada acara Rapat Pimpinan Telkom berupa pernyataan dan penandatanganan komitmen implementasi GCG Telkom Group. Ini menunjukkan kesungguhan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom Group untuk memprioritaskan penerapan GCG.
Komitmen Kami untuk menerapkan instrument GCG tidak hanya untuk mematuhi peraturan yang berlaku di pasar modal namun diyakini sebagai kunci sukses dalam upaya pencapaian kinerja usaha yang efektif, efisien serta berkelanjutan yang sangat diperlukan dalam memenangi persaingan pasar. Tahun 2011 merupakan tahun penguatan penerapan GCG di seluruh group usaha (tata kelola Anak Perusahaan).
Menyikapi transformasi organisasi menuju portfolio bisnis TIME, maka Perusahaan memandang perlu untuk meningkatkan kualitas praktik GCG yang telah ada untuk dikuatkan lagi dalam sebuah komitmen GCG yang ditandatangani oleh seluruh Dewan Komisaris dan Direksi Telkom Group. Penguatan GCG dalam hal ini dimaksudkan agar penerapan GCG senantiasa melekat dan selaras dengan tuntutan bisnis dan kondisi industry saat ini.

Melalui Sub-Direktorat Business Effectiveness dan Sub Direktorat Organizational Development penguatan GCG Telkom Group dibangun sekaligus terus menerus memperbaiki praktik GCG yang telah ada menuju diterapkannya pengelolaan Perusahaan yang beretika (GCG as ethics) dan menjadikan GCG sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari mengelola Perusahaan (GCG as knowledge) serta terintegrasinya pengelolaan GCG dan manajemen risiko Perusahaan. Selain itu, sebagai Perusahaan publik yang patuh pada peraturan otoritas pasar modal, baik Bapepam-LK maupun SEC, Telkom menerapkan dan menjunjung tinggi kebijakan serta nilai nilai yang terkandung dalam praktik tata kelola Perusahaan yang penerapannya mengacu pada international best practices serta Pedoman Pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan Indonesia (“Indonesia Code of GCG”) yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) di Indonesia.
Sebagai Perusahaan yang sahamnya tercatat di NYSE, Telkom berkewajiban untuk mematuhi ketentuan yang dimuat dalam Sarbanes Oxley Act Tahun 2002 (“SOA”) serta peraturan yang masih berlaku lainnya. Peraturan dan ketentuan dalam SOA yang relevan dengan bisnis Telkom di antaranya (i) SOA Seksi 404 yang mensyaratkan manajemen Telkom untuk bertanggung jawab atas dilakukannya dan dipeliharanya pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan (“ICOFR”) yang memadai sehingga memastikan keandalan pelaporan keuangan Telkom dan persiapan penerbitan laporan keuangan yang selaras dengan SAK Indonesia.
Sejauh ini Telkom beserta Anak Perusahaan telah berkomitmen untuk melakukan kajian dan audit menyeluruh untuk menjamin rancangan dan implementasi ICOFR yang efektif dan terintegrasi dalam laporan keuangan Perusahaan. (ii) SOA seksi 302 yang menghendaki tanggung jawab dari pihak manajemen Telkom terhadap pembuatan, pemeliharaan dan pengevaluasian terhadap efektivitas prosedur dan pengendalian pengungkapan untuk memastikan kesesuaian informasi yang diungkapkan dalam laporan dengan Exchange Act dan telah dicatat, diproses, dirangkum dan dilaporkan dalam periode waktu yang tersedia untuk kemudian diakumulasikan dan dikomunikasikan kepada manajemen Perusahaan, termasuk Direktur Utama dan Direktur Keuangan, untuk kepentingan pengambilan keputusan terkait dengan pengungkapan yang diperlukan. Penjelasan lebih lanjut mengenai hasil kajian manajemen terhadap prosedur dan pengendalian pengungkapan ICOFR dan pengungkapan terkait dapat dilihat pada seksi “Prosedur dan Pengendalian”. Kami juga mematuhi dan tunduk terhadap ketentuan yang berlaku di Bapepam-LK dan SEC mengenai independensi anggota Komite Audit.

3.2 KERANGKA KERJA DAN KINERJA GCG TELKOM
Komitmen Kami untuk menjalankan GCG tertuang dalam kerangka kerja yang diatur sesuai kebijakan penerapan GCG yaitu Keputusan Direksi No.29 Tahun 2007. Dalam kerangka kerja tersebut terintegrasi beberapa system pengelolaan yang menjadi prasyarat atau bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penerapan GCG di Perusahaan, tidak lain adalah untuk menjamin dan memastikan dicapainya penerapan GCG yang efektif sampai pada tingkat operasional yaitu memastikan bahwa setiap transaksi, baik transaksi internal maupun eksternal dijalankan secara beretika dan sesuai dengan praktik tata kelola Perusahaan yang baik dan benar.
Telkom menyadari bahwa keberhasilan Perseroan sangat didukung oleh terbentuknya nilai-nilai inti dan budaya Perusahaan serta mampu menerapkan GCG, untuk itu Telkom membangun kerangka GCG dan Roadmap untuk memastikan bahwa penerapan GCG disusun berdasarkan kesepahaman bersama antara manajemen dengan seluruh elemen Perusahaan serta terinternalisasi dalam menjalankan usaha Perusahaan berdasarkan 4 (empat) pilar utama yang Kami pandang sebagai pondasi bagi kokohnya penerapan GCG yang meliputi:
a. Pelaksanaan etika bisnis yang didalamnya memuat tata nilai budaya Perusahaan, yang setiap tahun dikomunikasikan dan disurvey pemahamannya kepada karyawan;
b. Pengelolaan kebijakan dan prosedur operasional yang efektif sesuai dengan tuntutan bisnis, sebagai pedoman pengelolaan Perusahaan dan menjadi panduan bekerja karyawan;
c. Penerapan manajemen risiko secara terpadu berbasis COSO Enterprises Risk Management
d. Pengawasan internal dan penerapan pengendalian internal berbasis COSO Internal Control utamanya pengendalian internal atas pelaporan keuangan

STRUKTUR TATA KELOLA PERUSAHAAN

Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan GCG, Kami senantiasa memperbaiki struktur maupun prosedur pelaksanaannya dan memastikan penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi dan kewajaran di setiap lini Perusahaan. Hal ini bertujuan untuk menghindari potensi risiko benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas, fungsi serta tanggung jawab baik di level Dewan Komisaris, Direksi, manajemen maupun karyawan Telkom.

Secara internal, struktur maupun prosedur pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Direksi No.29 Tahun 2007 yang memuat kerangka kerja operasional terpadu untuk memastikan agar setiap transaksi yang dilakukan baik internal maupun eksternal telah dilakukan sesuai dengan etika maupun praktik tata kelola perusahaan yang baik dan benar.
Keefektifan dari setiap penggunaan kebijakan selalu dievaluasi perusahaan setiap tahun. Pada saat yang sama, perusahaan juga menjamin pengawasan terhadap pelaksanaannya akan dilakukan secara independen dan menyeluruh untuk mencapai target efesiensi di seluruh lini organisasi sekaligus menjaga integritas Perusahaan di mata otoritas dan publik secara luas.

PENERAPAN IFRS DI TAHUN 2011

Perubahan yang cukup besar terkait pelaporan keuangan tahun 2011 adalah berkaitan dengan penerapan standar pelaporan keuangan International Financial Reporting Standard (“IFRS”). Mengingat pelaporan keuangan di Telkom telah menerapkan pengendalian internal sebagaimana ketentuan SOX Section 404, maka rancangan dan penerapan pengendalian internal atas pelaporan keuangan perlu mengalami penyesuaian yang cukup besar agar sesuai dengan ketentuan standar akuntansi yang berlaku.

Hal tersebut meliputi kebijakan akuntansi, organisasi dan aplikasi TI, termasuk perubahan rancangan dan penerapan pengendalian internal atas pelaporan keuangan yang diikuti dengan pengembangan kompetensi pengetahuan IFRS kepada karyawan yang terlibat. Komitmen untuk menerapkan IFRS merupakan keputusan manajemen, bahwa Telkom akan melakukan adopsi lebih awal dari roadmap DSAK IAI atas Standar Pelaporan Keuangan IFRS.

Untuk itu sejak tahun 2010 dibentuk tim khusus disebut dengan Gugus Tugas IFRS yang bertanggung jawab mempersiapkan implementasi IFRS mulai dari fase penilaian, desain, implementasi sampai tahap kestabilan yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2012. Bagi Telkom, implementasi IFRS memiliki tantangan tersendiri, selain harus menyampaikan Laporan Keuangan dalam standar IFRS ke US SEC, Telkom pun harus menyampaikan Laporan Keuangannya dengan SAK Indonesia ke Bapepam-LK dengan tetap memperhatikan norma-norma pengendalian internal. Terkait dengan penerapan IFRS, Telkom juga berperan aktif mendukung implementasi IFRS di BUMN lainnya dan terlibat sebagai narasumber, berikut beberapa kegiatan yang telah dilakukan:

• Telkom terlibat aktif menjadi Tim Kerja Koordinasi BUMN untuk Antisipasi Penerapan IFRS ke dalam SAK Indonesia, salah satu wujudnya adalah menjadi narasumber dan pengajar untuk workshop penerapan SAK Indonesia Baru (IFRS) untuk BUMN;
• Telkom memberikan jasa pendampingan konvergensi SAK Indonesia-IFRS kepada salah satu BUMN di Indonesia dan ini merupakan langkah awal untuk membantu proses konvergensi di BUMN-BUMN lainnya;
• Telkom menjadi pembicara utama dalam Seminar IFRS untuk Auditor dengan tema ”Internal Auditors Need to Know IFRS Conversion” pada tanggal 11-13 April 2011 di Bandung; dan
• Secara rutin melakukan sosialisasi dan workshop atas implementasi IFRS ke Anak Perusahaan Telkom.

3.3 PENERAPAN BUDAYA PERUSAHAAN DAN ETIKA BISNIS

Moral dan etika Kami maknai sebagai landasan penerapan GCG di Perusahaan, hal ini mengingat bahwa organisasi tidak lain adalah terdiri dari orang-orang di dalamnya. Seiring waktu pembelajaran Kami dalam mengelola GCG, maka penerapan GCG merupakan cara atau pendekatan mencapai sukses perusahaan melalui pencapaian keunggulan kinerja Perusahaan (be profitable), kepatuhan (obey the law), menjalankan bisnis yang beretika (be ethical) dan membentuk kesadaran Perusahaan dan karyawan yang memiliki kepekaan tanggung jawab social kepada masyarakat sebagai wujud menjadi warga negara yang baik agar Telkom terus maju dan dicintai pelanggannya.

Code of Conduct The Telkom Way Telkom senantiasa membangun sistem dan budaya Perusahaan yang terintegrasi sebagai pendekatan pengelolaan bisnis yang komprehensif untuk mencapai keunggulan Kinerja Perusahaan (be profitable), menjalankan kepatuhan (obey the law), menjalankan bisnis yang beretika (be ethical) dan dimilikinya kesadaran Perusahaan dan karyawan yang peka akan tanggung jawab sosial kepada masyarakat sebagai wujud menjadi warga negara yang baik. Lebih dari itu, sistem dan budaya dibangun untuk mewujudkan citacita agar Telkom terus maju, dicintai pelanggannya, kompetitif di industrinya dan dapat menjadi role model perusahaan sejenis.

Sistem dan budaya seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, budaya perusahaan akan terbentuk karena adanya sistem yang dijalankan secara konsisten atau sebaliknya, sistem tersebut tidak akan memiliki makna tanpa disertai nilai-nilai moral yang yang mendasari perilaku karyawan dalam bekerja. Tradisi membangun sistem dan budaya dapat kita temukan di setiap era kepemimpinan Telkom. Dalam penerapannya, budaya Perusahaan terus dikembangkan agar sesuai dengan tuntutan dan perubahan lingkungan bisnis yang terjadi, dimana sejak tahun 2009 telah dilakukan transformasi menuju budaya baru Perusahaan yang disebut dengan “The Telkom Way”.

Nilai-nilai Perusahaan
Budaya Perusahaan The Telkom Way memiliki lima nilai-nilai perusahaan yaitu: Commitment to long term, Customer first, Caring-meritocracy, Co-creation of win-win partnership, dan Collaborative innovation yang selanjutnya Kami sebut dengan istilah 5C.

3.4 PERLINDUNGAN KONSUMEN

Sebagai wujud tanggung jawab penerapan GCG kepada pelanggan dan masyarakat dan sejalan dengan misi Kami untuk memberikan layanan yang terbaik, nyaman, produk berkualitas dan harga yang bersaing, Kami terus menjaga komunikasi dengan para pelanggan. Kami menyadari komunikasi yang lancar dan proaktif berperan penting bagi kelangsungan bisnis Perusahaan di samping memastikan kualitas yang sesuai dengan standar. Dalam rangka memastikan pemenuhan standar layanan purna jual, Kami berkomitmen untuk menerapkan kompensasi yang adil melalui pemberlakuan SLG (“Service Level Guarantee”, Garansi Purna Jual).

Komitmen Kami terus Kami sesuaikan dengan tuntutan konsumen dan masyarakat sebagaimana ketentuan yang telah Kami atur dalam kebijakan Perusahaan KD DIRJASA No.C.tel.1758/ YN000/JAS 53/04 tahun 2004 dan KD ND.C000 No.C.Tel.18/4N000/KNS-24/06 tahun 2006. Beberapa cara telah Kami lakukan dan terus Kami sempurnakan di tahun 2011, tidak lain untuk memberikan kenyamanan dan jaminan perlindungan konsumen melalui pengelolaan keamanan produk (product safety), layanan pengaduan dan jaminan purna jual antara lain:

1. Menjamin kualitas dan keamanan produk/layanan untuk memastikan kesesuaian proses pengambilan keputusan dalam peluncuran produk/layanan terhadap standar pengembangan produk/layanan yang harus Kami patuhi (Kami menyebutnya STARPRO) dan analisis 8 IC (Internal Capabilities) sebelum produk/ layanan ditawarkan ke konsumen dan publik;
2. Memegang prinsip untuk memastikan produk dan layanan yang dihasilkan bernilai tinggi dan mampu menciptakan manfaat yang sebesarbesarnya serta mampu mendorong perekonomian masyarakat dan negara;
3. Selalu menjaga kode etik dalam penjualan produk (penjualan langsung), promosi dan beriklan;
4.Menerapkan praktik beriklan yang beretika dengan memperhatikan ketentuan kode etik periklanan di Indonesia;
5. Memastikan bahwa produk dan layanan purna jual dapat secara mudah tersedia bagi publik.
6. Mendukung penerapan prinsip-prinsip dan praktek persaingan yang sehat; dan
7. Selalu berorientasi pada kepuasan pelanggan.

Pusat Layanan dan Mekanisme Pengaduan Konsumen
Telkom menyediakan pusat pelayanan konsumen yang dapat langsung didatangi di setiap kantor wilayah maupun kantor cabang Telkom, selain itu juga tersedia pusat pengaduan secara online di website Perusahaan (www.telkom.co.id) serta call center dengan nomor “147”.

3.5 KOMUNIKASI DAN KETERBUKAAN INFORMASI

Sesuai prinsip transparansi dan keadilan tata kelola Perusahaan yang baik, Telkom mengelola komunikasi dan pengungkapan Perusahaan sesuai Kebijakan Direksi No.13 tahun 2009 yang dirancang berdasarkan ketentuan SOA section 302. Kebijakan ini berisi prosedur pengendalian keterbukaan Perusahaan (disclosure control procedure) yang bertujuan agar Perusahaan mampu memberikan keyakinan bahwa seluruh informasi yang diungkapkan kepada para pemegang saham, pemangku kepentingan dan otoritas pasar modal telah dikumpulkan, diperiksa, dicatat, diproses, diikhtisarkan, dan disampaikan secara akurat, tepat waktu, memenuhi prinsip perlakuan seimbang dan adil, prinsip kehati-hatian dan prinsip keterbukaan penuh sesuai dengan peraturan pasar modal.

Prosedur pengendalian pengungkapan ditetapkan untuk menjamin tata kelola pengungkapan dan tidak hanya pengungkapan laporan tahunan melainkan pengungkapan signifikan lainnya meliputi:
a. Laporan Tahunan yang disampaikan kepada Bapepam- LK dan US SEC;
b. Annual Securities on Form-10;
c. Semi Annual Report on Form-8;
d.Surat Edaran kepada Pemegang Saham (sirkular) dalam rangka corporate actions seperti merger dan akuisisi, Pemecahan Saham, Pembelian Kembali Saham, penawaran tender, stock option, divestasi, leverage buy out, dan aksi korporasi lainnya;
e. Laporan Hasil Rapat Umum Pemegang Saham;
f. Laporan Pelaksanaan Paparan Publik;
g.Presentasi Direksi dalam rangka Roadshow, Rapat Analis (inisiatif internal), Konferensi Investor (permintaan eksternal), Materi Paparan Publik (permintaan eksternal);
h. Info Memo;
i. Profil Perusahaan;
j. Siaran Pers yang berkaitan dengan investor relations;
k. Siaran Pers yang tidak berkaitan dengan investor relations;
l. Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum;
m.Surat Pemberitahuan Pemantauan Pemeringkatan;
n. Ringkasan Keuangan Perusahaan, Ikhtisar Laporan Keuangan;
o.Website Perusahaan; dan
p.Majalah Internal Telkom; Proses utama yang dilakukan Telkom sesuai prosedur pengungkapan meliputi:
•• Proses Representasi: merancang dan menjalankan proses representasi;
•• Pembentukan Komite Pengungkapan: membentuk Komite Pengungkapan yang diketuai oleh Direktur Keuangan dengan anggota para pemimpin senior Perusahaan yang menentukan jenis pengungkapan yaitu kompleks atau non kompleks;

3.6 Penerapan Tata Kelola Perencanaan Perusahaan

Konsistensi tata kelola perencanaan merupakan salah satu perhatian utama manajemen dalam menerapkan GCG. Sesuai kebijakan Perusahaan nomor KD.74/LB100/CA-20/2006, manajemen memastikan bahwa perencanaan perusahaan dilakukan secara sistematis, lebih mudah, teratur, terintegrasi, sesuai visi dan misi Perusahaan, serta dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya; juga memudahkan dalam melakukan evaluasi dan pengendalian pada saat pelaksanaannya. Model perencanaan Perusahaan secara garis besar terdiri dari 3 (tiga) tahap perencanaan yaitu:

• Penyelarasan harapan pemangku kepentingan
Pada tahap ini, Perusahaan mengidentifikasi pemangku kepentingan utama dan menganalisis harapan setiap pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan utama Telkom dalam hal ini meliputi pemegang saham, pelanggan, karyawan, masyarakat, pemerintah dan rekan bisnis. Analisis atas harapan pemangku kepentingan utama tersebut memberikan informasi yang sangat berguna untuk menyusun perencanaan strategis dan sasaran strategis perusahaan. Peran GCG sangat penting pada tahap ini untuk menyelaraskan dan menyeimbangkan harapan dan keinginan semua pemangku kepentingan utama agar tidak menimbulkan benturan kepentingan satu dengan yang lainnya.

• Perumusan strategi Perusahaan (strategic formulation)
Pada tahap ini, perumusan strategi diawali dengan penetapan visi dan misi Perusahaan dengan memperhatikan harapan-harapan semua pemangku kepentingan, kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis strength, weaknesses, opportunities dan treat (“SWOT”) organisasi dikaitkan dengan tingkat persaingan, pertumbuhan industri, perubahan teknologi, perubahan perilaku pelanggan, makro dan mikro ekonomi, dan lain-lain. Langkah berikutnya dilakukan pemetaan sasaran strategis organisasi yang tertuang pada dokumen Corporate Strategy Scenario (“CSS”). CSS merupakan hirarki perencanaan tertinggi sebagai acuan utama menyusun perencanaan Perusahaan.

CSS disusun berdasarkan masukan/usulan dari Direktorat dengan arahan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris. CSS diharapkan memenuhi persyaratan perencanaan yang baik antara lain adalah menuangkan nilai kuantitatif, dapat diukur, realistis, mudah dipahami, menantang, hirarkis dan dapat dicapai. Dalam menyusun CSS, Perusahaan menggunakan beberapa rujukan antara lain:
1. Analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal Perusahaan, peluang bisnis serta tantangan persaingan;
2. Analisis portofolio bisnis (portofolio perusahaan, portofolio produk, Boston Window);
3. Analisis pangsa pasar/cakupan, kekuatan merk/modal; dan
4. Rumusan strategi jangka panjang Telkom yang disebut dengan CSS yang berisi penetapan kebijakan, program dan proyeksi keuangan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang.
Setiap tahun, Telkom mengkaji kembali CSS berdasarkan faktor-faktor perubahan internal dan eksternal dan menuangkannya dalam Corporate Annual Message (CAM). Mekanisme penyusunan CSS dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penyusunan rancangan strategi yang dipersiapkan oleh Dewan Direksi;
2. Penelahan intensif oleh Dewan Komisaris dan Komite Perencanaan dan Pengelolaan Risiko (”KPPR”);
3. Pembahasan antara KPPR dengan tim teknis manajemen yang diwakili oleh Unit Strategic Investment and Corporate Planning (”SICP”);
4. Pembahasan antara Dewan Direksi dan Dewan Komisaris;
5. Penyusunan rancangan akhir CSS oleh SICP dan KPPR; dan
6. Persetujuan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris.
Penerapan Strategi bisnis
Pada tahap ini, CSS dijabarkan menjadi perencanaan bisnis jangka panjang (master plan) dan turunannya sebagai perencanaan jangka pendek atau tahunan. Dalam master plan ditetapkan sasaran dan rencana kerja Perusahaan lima tahun sesuai lingkup fungsional perencanaan, sedangkan pada perencanaan jangka pendek telah tercantum sasaran dan rencana kerja tahunan yang lengkap disertai rencana kerja dan anggarannya.

Beberapa dokumen perencanaan bisnis dan perencanaan tahunan pada tahap ini meliputi:
1. CSS, adalah dokumen utama rencana Perusahaan yang berisi visi, misi, sasaran, strategi korporasi, strategi inisiatif, kebijakan dan program utama yang disusun dalam waktu lima tahun kedepan;
2. Group Business Plan (“GBP”) atau Master Plan (“MP”), merupakan rencana jangka panjang Perusahaan di tingkat Direktorat yang merupakan penjabaran dari CSS;
3. Corporate Annual Message (CAM), yaitu arahan Direktur Utama mengenai program prioritas satu tahun anggaran mendatang yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja dalam kerangka waktu satu tahun mendatang
4. Rencana Kerja Manajerial (“RKM”), adalah rencana kerja yang disusun sebagai penjabaran Corporate Annual Message (“CAM”) yang akan dipakai dalam penyusunan RKAP dan disusun dalam kurun waktu satu tahun anggaran;
5. Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (“RKAP”), adalah program-program kerja dan anggaran Perusahaan yang disusun dalam kerangka waktu satu tahun mendatang; dan
6. Rencana Kerja dan Anggaran (“RKA”), merupakan program-program kerja dan anggaran yang disusun dalam kerangka waktu satu tahun anggaran oleh Direktorat operasi, unit fungsional korporasi, unit corporate support, unit bisnis, Anak Perusahaan dan yayasan.

Peran GCG dalam perencanaan Perusahaan adalah untuk menjamin dan memastikan keseluruhan proses dan kegiatan perencanaan dapat berlangsung baik, bertanggungjawab, transparan dan mampu memberi nilai tambah yang berkesinambungan bagi Perusahaan, serta tentu saja tidak bertentangan dengan kepentingan seluruh pemangku kepentingan.

Penerapan Tata Kelola TI
Sebagai Perusahaan yang bergerak dalam bisnis informasi, Telkom senantiasa berusaha untuk memanfaatkan seluas mungkin penggunaan teknologi dalam pengelolaan Perusahaan. Hampir seluruh titik dalam value-chain Perusahaan telah terintegrasi dalam jaringan TI. Selain untuk pengoperasian jaringan seluruh infrastruktur alat produksi, semua aspek penting dalam manajemen Perusahaan seperti keuangan, logistik, sumber daya manusia termasuk juga pelayanan kepada karyawan, pelanggan, pemasok dan pemangku kepentingan lainnya telah memanfaatkan jaringan TI Telkom.

Manajemen Telkom yakin bahwa penerapan TI secara luas dalam Perusahaan akan secara langsung meningkatkan penerapan Tata Kelola Perusahaan menjadi lebih baik lagi karena disamping akan mendorong terselenggaranya prinsip pokok transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, kemandirian dan kewajaran juga akan memudahkan sosialisasi, pengawasan dan penegakannya (enforcement). Pembentukan pengendalian umum TI dan pengendalian aplikasi melalui penilaian risiko telah memberikan kontribusi terhadap pemanfaatan TI sebagai faktor pendukung dan instrumen yang memfasilitasi usaha Telkom pada saat ini maupun di masa mendatang.

Kerangka kerja pengelolaan tata kelola IT mengacu pada Control Objectives for Information and related Technologies (“COBIT”) yang dituangkan sebagai kebijakan Keamanan Sistem Informasi (KD 57/Tahun 2007) meliputi:
• Informasi, sistem pengolahan data/informasi, jaringan dan sarana penunjang merupakan asset informasi yang sangat penting bagi Perusahaan;
• Penerapan sistem keamanan informasi untuk menjamin integritas aset dan informasi, sehingga dapat menjaga nilai kompetitif, arus kas, profitabilitas, kepatuhan hukum dan citra komersial Perusahaan;
• Penerapan sistem keamanan informasi meliputi penilaian risiko, penilaian keamanan, kepatuhan pada peraturan dan hukum dan kebutuhan bisnis; dan
• Keberhasilan penerapan sistem keamanan informasi dapat dicapai dengan menerapkan pemahaman yang sama, pengendalian, pengawasan dan evaluasi terhadap implementasi kebijakan.

Beberapa contoh praktek tata kelola TI dalam operasi Kami adalah:
a. User Access Review, dalam level operasional, hak akses oleh setiap user pada setiap aplikasi system informasi ditetapkan sesuai kewenangannya yang tercantum pada Distinct Job Manual (”DJM”) dan setiap perubahan yang terjadi karena adanya perubahan aplikasi, perubahan organisasi, mutasi karyawan, pensiun karyawan dan lain sebagainya maka secara berkala dievaluasi untuk memastikan keamanannya;

b. Password Management, untuk menjamin tidak terjadi penyalahgunaan aplikasi di tingkatan operasional, secara berkala penggantian password harus dilakukan dengan standar ketentuan password, dan penyalahgunaan password merupakan pelanggaran atas disiplin pegawai yang mendasar dan akan dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam kebijakan Perusahaan (KR 30/Tahun 2007);

c. Audit Log/Audit Trail, dalam operasi pengelolaan TI, setiap aplikasi harus memiliki kemampuan untuk menyimpan setiap transaksi atau kejadian. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin akuntabilitas atas sistem informasi sehingga setiap kejadian dapat dilacak dan urutan kejadiannya dapat dibuktikan untuk keperluan pendeteksian/ pemeriksaan atas kecurangan, pencegahan atas kejadian yang tidak diinginkan, perbaikan atas kesalahan dan untuk umpan balik/masukan untuk peningkatan sistem; dan

d. End User Computing, dalam tingkatan operasional penggunaan aplikasi independen yang ada pada masing-masing pengguna komputer harus dikelola dan diatur sesuai standard end user computing yang telah ditetapkan oleh Perusahaan. Pada tahun 2010, Telkom meraih penghargaan BUMN Award sebagai the best of IT BUMN yang dinilai dari aspek pelanggan, relasi dan jaringan.

BAB IV
KESIMPULAN

Tata Kelola Perusahaan yang baik (GCG) dalam organisasi Perusahaan berlandaskan pada komitmen untuk menciptakan Perusahaan yang transparan, dapat dipertanggung jawabkan (accountable), dan terpercaya melalui manajemen bisnis yang dapat dipertanggung jawabkan.
transparansi dan keadilan tata kelola Perusahaan yang baik, Telkom mengelola komunikasi dan pengungkapan Perusahaan sesuai Kebijakan Direksi. Kebijakan yang berisi prosedur pengendalian keterbukaan Perusahaan (disclosure control procedure) yang bertujuan agar Perusahaan mampu memberikan keyakinan bahwa seluruh informasi yang diungkapkan kepada para pemegang saham, pemangku kepentingan dan otoritas pasar modal telah dikumpulkan, diperiksa, dicatat, diproses, diikhtisarkan, dan disampaikan secara akurat, tepat waktu, memenuhi prinsip perlakuan seimbang dan adil, prinsip kehati-hatian dan prinsip keterbukaan penuh sesuai dengan peraturan pasar modal.

Dalam kerangka kerja , terintegrasi dengan beberapa system pengelolaan yang menjadi prasyarat atau bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penerapan GCG di Perusahaan, tidak lain adalah untuk menjamin dan memastikan dicapainya penerapan GCG yang efektif sampai pada tingkat operasional yaitu memastikan bahwa setiap transaksi, baik transaksi internal maupun eksternal.
Dalam kerangka kerja Telkom bahwa keberhasilan Perseroan sangat didukung oleh terbentuknya nilai-nilai inti dan budaya Perusahaan serta mampu menerapkan GCG, untuk itu Telkom membangun kerangka GCG dan Roadmap untuk memastikan bahwa penerapan GCG disusun berdasarkan kesepahaman bersama antara manajemen dengan seluruh elemen Perusahaan serta terinternalisasi dalam menjalankan usaha Perusahaan berdasarkan 4 (empat) pilar utama.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com

http://www.telkom.co.id

SISTEM AKUNTANSI INTERNASIONAL “KANADA”

0

AKUNTANSI INTERNASIONAL
SISTEM AKUNTANSI INTERNASIONAL “KANADA”

KELOMPOK 7

ALIEN DWI PUTRI (20210558)
ANINDYA DITA KHOIRINA (20210864)
ANITA HOTMAULINA MANIK (20210887)
SARAH TRIWULAN (26210376)
YOLANDA BELLA CHRISANDRI (28210679)

4EB13

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
DEPOK
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Akuntansi berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sejarahperkembangan pemikiran akuntansi (accounting thought) dibagi dalam tigaperiode: tahun 4000 SM – 1300 M; tahun 1300 – 1850 M, dan tahun 1850 Msampai sekarang. Masing-masing periode memberi kontribusi yang berarti bagiilmu akuntansi. Pada periode pertama akuntansi hanyalah bentuk record-keepingyang sangat sederhana, maksudnya hanyalah bentuk pencatatan dari apa saja yang
terjadi dalam dunia bisnis saat itu. Periode kedua merupakan penyempurnaan dariperiode pertama, dikenal dengan masa lahirnya double-entry bookkeeping. Pada periode terakhir banyak sekali perkembangan pemikiran akuntansi yang bukanlagi sekedar masalah debit kiri – kredit kanan, tetapi sudah masuk ke dalamkehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi yang luar biasa juga berdampakpada perubahan ilmu akuntansi modern (Basuki, 2000 : 173).
Pengguna akuntansi juga bervariasi, dari yang sekedar memahami akuntansi sebagai: 1) alat hitung menghitung; 2) sumber informasi dalam pengambilan keputusan; 3) sampai ke pemikiran bagaimana akuntansi diterapkan sejalan dengan (atau sebagai bentuk pengamalan) ajaran agama. Bila dihubungkan dengan kelompok usaha kecil dan menengah tampaknya pemahaman terhadap akuntansi masih berada pada tataran pertama dan kedua yaitu sebagai alat hitung-menghitung dan sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan (Basuki, 2000 : 174).
Meskipun terdapat perhatian yang mendalam mengenai banyaknya pengaruh faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan akuntansi secara global, para ahli juga percaya bahwa terdapat perbedaan pola secara sistematis mengenai perilaku akuntansi di beberapa negara. Untuk mengetahui apakah terdapat keseragaman atau perbedaan yang sistematis di dalam sistem akuntansi yang mungkin dapat mengelompokkan beberapa negara menjadi satu, maka diperlukannya suatu pengklasifikasian yang memadai.
Perbedaan pola perilaku akuntansi bisa diidentifikasi dalam penilaian yang dihasilkan dari beberapa tahun perkembangan terhadap faktor-faktor seperti nilai-nilai budaya, sistem hukum, orientasi politik, dan perkembangan ekonomi. Tantangan kita saat ini adalah untuk menyesuaikan diri dari budaya yang lalu dengan desakan global akan transparansi dan kredibilitas akuntansi untuk memfasilitasi arus modal efisien ke pasar keuangan. Untuk melakukan ini, diperlukannya pengakuan bahwa tradisi dan budaya membentuk pemikiran akuntansi di sebuah negara dan perubahan tersebut dapat diperoleh ketika kita mengetahui dan memahami budaya tersebut.
G.G Mueller yang dimuat dalam The International Journal of Acounting (Spring 1968) yang menggunakan penilaian ekonomi, kompleksitas bisnis, situasi politik serta sistem hukum, membagi negara-negara ke dalam 10 kelompok berdasarkan sistem akuntansi, yaitu :
Amerika Serikat / Kanada / Belanda
Negara-negara persemakmuran Inggris
Jerman / Jepang
Daratan Eropa (tidak termasuk Jerman Barat, Belanda dan Skandinavia)
Skandinavia
Israel / Meksiko
Amerika Selatan
Negara berkembang
Afrika (tidak termasuk Afrika Selatan)
Negara-negara komunis

Pendekatan Induktif (The Inductive Approach)
Dalam pendekatan inductive praktek akuntansi individual dianalisa, pola perkembangan atau pengkelompokan diidentifikasi, dan di akhir, penjelasan dibuat dari sudut pandang ekonomi, sosial, politik, dan faktor-faktor budaya.
Pendekatan Inductive yang digunakan untuk mengidentifikasi pola akuntansi dimulai dengan menganalisa setiap praktek akuntansi. Sebuah penelitian statistik tentang prakek akuntansi internasional yang dilakukan oleh Nair dan Frank ( Juli 1980) secara empiris membedakan antara praktek pengukuran dan pengungkapan karena keduanya dianggap memiliki pola perkembangan yang berbeda. Penelitian yang menggunakan data Price Waterhouse (1973) tersebut menunjukkan bahwa terdapat empat pengelompokkan karakteristik praktek pengukuran yaitu yang mengikuti model dari: British Commonwealth, Latin American, Continental European, dan United States. Namun masalah yang muncul dari tipe riset seperti ini adalah kurangnya data yang relevan dan yang dapat diandalkan untuk investigasi. Dan juga, dalam pengklasifikasian seperti ini, penelitian tidak terlalu memperhatikan pengaruh budaya sebagai suatu variabel yang mendasar sebagai faktor pengaruh perbedaan sistem akuntansi internasional.
Nair dan Frank dalam The Accounting Review (Juli 1980) membagi negara-negara ke dalam 5 kelompok besar berdasarkan perbedaan dalam praktek pengungkapan dan penyajian, yaitu :
Model Persemakmuran Inggris
Model Amerika Serikat
Model Eropa Utara dan Tengah
Model Amerika Serikat
Chili
Selain itu juga ada pendapat dari Nobes dalam Journal of Business Finance and Accounting (Spring 1983) mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan sistem akuntansi yaitu :
Tipe pemakai laporan keuangan yang dipublikasikan
Tingkat kepastian hukum
Peraturan pajak dalam pengukuran
Tingkat konservatisme
Tingkat keketatan penerapan dalam historical cost
Penyesuaian Replacement Cost
Praktek konsolidasi
Kemampuan untuk memperoleh provisi
Keseragaman antarperusahaan dalam penerapan peraturan

Rumusan Masalah
Bagaimana sistem akuntansi yang terdapat di Negara Kanada ?

Tujuan
Untuk mengetahui system akuntansi yang digunakan di Negara Kanada.

BAB II
PEMBAHASAN

The IPSASB isu International Standar Akuntansi Sektor Publik untuk menyelaraskan akuntansi sektor publik secara global. Umumnya, IPSASB bertemu empat kali per tahun dan menggunakan sejumlah tugas berbasis kelompok untuk mengembangkan bahan pertimbangan Dewan.
Keterlibatan PSAB dalam pekerjaan IPSASB ini dicapai melalui menghadiri dan berpartisipasi dalam pertemuan Dewan mereka, memberikan kontribusi bagi pengembangan berbagai standar, menyiapkan catatan briefing untuk delegasi Kanada dan memberikan komentar pada dokumen terkena.
Kanada, secara historis dikenal sebagai Dominion of Canada, adalah negara paling utara di Amerika Utara. Merupakan federasi dari 10 provinsi dan 3 teritori dengan sistem desentralisasi dan pemerintahan berbentuk monarki konstitusional. Dibentuk tahun 1867 dengan undang-undang Konfederasi.
Ibu kota Kanada adalah Ottawa, tempat parlemen nasional dan juga tempat tinggal Gubernur Jenderal dan Perdana Menteri. Merupakan bekas jajahan Perancis dan Britania Raya, Kanada adalah anggota La Francophonie dan Negara Persemakmuran.
Sebagai negara maju, Kanada juga mempunyai standar akuntansi pemerintahan yang digunakan di negaranya. Karena masing-masing negara mempunyai standar yang berbeda untuk akuntansi pemerintahannya, begitu pula yang di Kanada. Yang pasti akan sangat berbeda dengan akuntansi pemerintahan di negara kita, Indonesia. Mungkin standarnya akan lebih rumit.
Akuntansi di Kanada, ada 3 lembaga yg menangani akuntansi: the Canadian Institute of Chartered Accountants (CA), the Certified General Accountants Association of Canada (CGA), & the Society of Management Accountants of Canada (CMA). CA & CGA dibentuk berdasarkan Undang-undang Parlemen berturut-turut pd tahun 1902 & 1913 sedangkan CMA didirikan dalam tahun 1920.
Program CA difokuskan menjadi akuntan publik & kandidat harus memiliki pengalaman auditing dari kantor akuntan publik; program CGA memberikan kebebasan bagi kandidatnya untuk memilih karier di bidanga keuangan; program CMA memfokuskan diri pd akuntansi manajemen.
  Pelaporan keuangan di Kanada telah mengalami perubahan yang luar biasa sejak Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) telah diadopsi sebagai Canadian Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) untuk perusahaan publik akuntabel dan entitas bisnis pemerintah. Dalam, standar masa lalu Kanada untuk akuntansi keuangan dan pelaporan oleh perusahaan publik tersebut dikembangkan oleh Dewan Standar Akuntansi (AcSB) .1 Karena adopsi IFRS, yang AcSB telah aktif dalam memantau konten teknis dan waktu pelaksanaan standar untuk perusahaan publik Kanada yang diwajibkan untuk melaporkan berdasarkan IFRS selambat-lambatnya 2011,2 Akuntansi Standar Internasional (IASB) bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mempublikasikan SAK yang telah semakin diadopsi secara global, dengan atau tanpa adaptasi.
Pada tahun 2010, Dewan Akuntansi Sektor Publik (PSAB) menyetujui standar baru pada transfer pemerintah, dengan tanggal efektif tanggal 1 April 2012. Alamat-alamat standar transfer dari kedua pentransfer dan yang penerima perspektif. Dalam beberapa hal, itu adalah standar terobosan dalam otoritatif lainnya standar tidak secara khusus membahas masalah kapan entitas memiliki kewajiban untuk membuat transfer (Pentransfer) dan banyak memiliki masalah warisan yang tersisa dengan cara penerima akan menjelaskan transfer.
Standar akuntansi sektor swasta Kanada tidak secara khusus menangani masalah pengalih namun mengatasi pengakuan pendapatan dari perspektif penerima. Akuntansi Sektor Publik Internasional Board (IPSASB), IPSAS 23, Pendapatan Non-Transaksi Bursa (Pajak dan Transfer), hanya alamat penerima akuntansi (menggunakan perspektif kewajiban untuk pengakuan pendapatan) tetapi tidak memberikan pedoman akuntansi pengalih. Selanjutnya, sebagian ada standar lain (khususnya untuk modal transfer) terus memerlukan penangguhan dan pendekatan amortisasi untuk pengakuan pendapatan. Bagian PS 3410, Transfer Pemerintah, mengambil pandangan menggunakan definisi kewajiban untuk menentukan kapan pendapatan harus diakui. Pandangan ini, yang tidak mencerminkan standar saat ini sektor swasta, didukung oleh IPSASB dan proposal di bawah Standar Akuntansi Internasional (IASB), Pendapatan Kontrak dengan proyek Pelanggan.
PSAB menyadari bahwa itu tidak mungkin untuk mencapai kesepakatan dengan standar di antara semua pemangku kepentingan. Setelah konsultasi yang cukup (draft paparan tiga dan 350 tanggapan), Dewan mengambil pandangan bahwa Keputusan harus dibuat, mengakui bahwa standar mungkin tidak menemukan penerimaan oleh beberapa stakeholder.
Sebagai standar baru saja mulai berlaku, ada isu-isu yang berkaitan dengan permukaan ketika kewajiban harus diakui oleh pemerintah yang mentransfer sumber daya dan, dari sudut pandang penerima, ketika Pendapatan harus diakui. PSAB akan terus mencermati perkembangan lebih lanjut di daerah-daerah.
Tingkat-perusahaan diatur baik di swasta dan sektor publik mengikuti persyaratan akuntansi dalam pra-changeover standar akuntansi di V Bagian dari Buku Pegangan CICA – Akuntansi.
Setelah penerapan Standar Internasional IASB Pelaporan Keuangan (SAK) di Bagian I CICA Handbook – Akuntansi, pada tahun 2007, PSAB diubah Pengantar untuk Akuntansi Sektor Publik Standar yang menunjukkan bahwa perusahaan bisnis pemerintah semua harus mematuhi standar yang berlaku untuk perusahaan publik akuntabel dalam Bagian I. PSAB setuju bahwa tanggal efektif untuk bisnis pemerintah perusahaan akan mencerminkan bahwa yang direkomendasikan oleh Dewan Standar Akuntansi (AcSB). PSAB menegaskan posisinya dan tanggal efektif lagi pada tahun 2009.
Standar dalam Bagian I tidak secara spesifik membahas isu-isu yang berkaitan dengan efek dari regulasi tingkat. Karena Bagian V dari Buku Pegangan CICA – Akuntansi diizinkan efek tertentu peraturan tingkat menjadi dicatat sesuai dengan petunjuk tersebut, industri yang bersangkutan tentang kurangnya bimbingan untuk tingkat-diatur perusahaan di bawah BagianI.
Ketidakpastian yang diberikan untuk saat IASB mungkin mengatasi masalah, pada bulan Oktober 2010, AcSB menangguhkan efektif tanggal mengadopsi Bagian I dari Buku Pegangan CICA – Akuntansi dengan tingkat-perusahaan diatur sampai 1 Januari 2012. Baru-baru ini, para AcSB telah memperpanjang tanggal efektif untuk satu tahun lagi.
Setelah berkonsultasi dengan Dewan Pengawasan Standar Akuntansi dan musyawarah banyak pada apakah pendekatan alternatif harus diambil, PSAB tetap teguh dalam pandangannya bahwa sama pendekatan yang dilakukan oleh AcSB harus diikuti untuk sektor publik. PSAB terus memantau perkembangan di daerah ini.

BAB III
KESIMPULAN

Akuntansi di Kanada, ada 3 lembaga yg menangani akuntansi: the Canadian Institute of Chartered Accountants (CA), the Certified General Accountants Association of Canada (CGA), & the Society of Management Accountants of Canada (CMA). Program CA difokuskan menjadi akuntan publik & kandidat harus memiliki pengalaman auditing dari kantor akuntan publik; program CGA memberikan kebebasan bagi kandidatnya untuk memilih karier di bidanga keuangan; program CMA memfokuskan diri pd akuntansi manajemen.
  Sistem Pelaporan keuangan di Kanada telah mengalami perubahan yang luar biasa sejak Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) telah diadopsi sebagai Canadian Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) untuk perusahaan publik akuntabel dan entitas bisnis pemerintah. Dalam, standar masa lalu Kanada untuk akuntansi keuangan dan pelaporan oleh perusahaan publik tersebut dikembangkan oleh Dewan Standar Akuntansi (AcSB) .1 Karena adopsi IFRS, yang AcSB telah aktif dalam memantau konten teknis dan waktu pelaksanaan standar untuk perusahaan publik Kanada yang diwajibkan untuk melaporkan berdasarkan IFRS selambat-lambatnya 2011,2 Akuntansi Standar Internasional (IASB) bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mempublikasikan SAK yang telah semakin diadopsi secara global, dengan atau tanpa adaptasi.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, 2000 : 173

G.G Mueller, The International Journal of Acounting, Spring

Gernon, Helen dan Gary K. Meek. 2007.  Akuntansi Perspektif Internasional Edisi 5. Jakarta.

lauramichelia.blogspot.com/2013/04/makalah-sistem-akuntansi-di-kanada.html

Nair dan Frank dalam The Accounting Review

Sunardi dan Danang Sunyoto. 2011. Akuntansi Internasional. Yogyakarta: Amara
Books

http://www.translate.com/english/pelaporan-keuangan-di-kanada-telah-mengalami-perubahan yang-luar-biasa-sejak-standar-pelaporan-keuan/7305069